Masih seperti “malam pertama yang kesatu” maka pada “malam pertama yang kedua” ini memiliki kemiripan satu dengan yang lain meskipun ada satu perbedaan yang pokok terjadi pada “malam pertama yang kedua” ini.
Kesamaannya adalah tetap saja pada malam itu handai taulan; tetangga; sahabat dan teman diundang untuk hadir dan memberikan doá restu bagi anak manusia yang akan memasuki “malam pertama yang kedua”. Kebahagiaan dan berbagai macam kesenangan tampil pada saat itu dengan segala kemewahan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Terkadang untuk lebih memperjelas strata sosial maka pihak yang mempunyai hajat “malam pertama yang kedua” ini harus memaksakan diri agar penyambutan malam itu terkesan sangat bergengsi dan mewah. Itulah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang terkadang lupa diri dalam mengisi rentang waktu kehidupan yang diberikan dengan ridhlo dan ijin dari Sang pemilik alam semesta ini.
Pada “malam pertama yang kedua” ini; semua kisah dan pengalaman serta apa yang dirasakan ketika melewatinya dapat diceriterakan kepada semua orang.Tetapi sudah pasti bahwa ceritera “malam pertama yang kedua” ini tentulah tidak sesuai dengan aslinya ketika seseorang melewatinya, ada penambahan dan pengurangan isi kisah “malam pertama yang kedua” dilakukan oleh lidah manusia untuk memperindah jalan ceriteranya ataupun menyembunyikan sesuatu yang mungkin merupakan kisah yang tidak menyenangkan hati sipemilik lidah.
Berbeda dengan “malam pertama yang kesatu” dimana semua kejadian yang dirasakan saat melewatinya tidak bisa diceriterakan oleh orang yang pernah melewatinya. Peristiwa yang dialami dan dirasakan oleh seseorang yang pernah melewati “malam pertama yang kedua” justru dapat dikisahkan oleh sang pelaku sendiri dan tidak dapat diceriterakan oleh orang lain. Kisah “malam pertama yang kedua” merupakan rahasia manusia yang melewatinya dan bukan merupakan rahasia Ilahi. Allah Subhanallahu Wa Taálla menyerahkan kisah ini sepenuhnya kepada manusia untuk menyimpan rahasianya.
Tetapi apakah yang terjadi ?
Sebagian besar manusia justru mengisahkan pengalaman yang dialaminya saat melewati “malam pertama yang kedua” dengan bangga dan bahkan ada yang dengan berbagai cara membuat kisah ‘malam pertama yang kedua” menjadi sebuah kisah dengan dilengkapi penggambaran yang justru mengundang syahwat bagi yang membacanya.
Manusia juga mengkajinya dengan analogie dan teori-teori ilmiah yang segudang untuk menjadikan kajiannya menjadi lebih menarik dan ilmiah.
Demikianlah anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepada manusia untuk menjaga rahasia “malam pertama yang kedua” itu yang justru menjadikan peristiwa ini bukan sebuah rahasia lagi tetapi menjadi ilmu dunia.
Kapankah “malam pertama yang kedua”
Ketika seorang anak manusia telah merasa dewasa dan memiliki tekad untuk menjumpai “malam pertama keduanya” maka tanpa disadari anak manusia ini dengan penuh percaya diri meminta agar seorang anak manusia lain bersedia untuk menemaninya melewati “malam pertamanya yang kedua”.
Untuk bisa melewati “malam pertama yang kedua” maka kedua insan ini haruslah melalui jembatan hukum agama kemudian jembatan hukum adat serta jembatan hukum negara. Bila ketiga jembatan ini mampu dilaluinya maka mereka tentu akan dapat melewati “malam pertama yang kedua”dengan penuh perasaan suka cita dan kebahagiaan yang sangat luar biasa serta istimewa lahir dan bathin.
Manusia juga mengkajinya dengan analogie dan teori-teori ilmiah yang segudang untuk menjadikan kajiannya menjadi lebih menarik dan ilmiah.
Demikianlah anugerah yang diberikan Sang Pencipta kepada manusia untuk menjaga rahasia “malam pertama yang kedua” itu yang justru menjadikan peristiwa ini bukan sebuah rahasia lagi tetapi menjadi ilmu dunia.
Kapankah “malam pertama yang kedua”
Ketika seorang anak manusia telah merasa dewasa dan memiliki tekad untuk menjumpai “malam pertama keduanya” maka tanpa disadari anak manusia ini dengan penuh percaya diri meminta agar seorang anak manusia lain bersedia untuk menemaninya melewati “malam pertamanya yang kedua”.
Untuk bisa melewati “malam pertama yang kedua” maka kedua insan ini haruslah melalui jembatan hukum agama kemudian jembatan hukum adat serta jembatan hukum negara. Bila ketiga jembatan ini mampu dilaluinya maka mereka tentu akan dapat melewati “malam pertama yang kedua”dengan penuh perasaan suka cita dan kebahagiaan yang sangat luar biasa serta istimewa lahir dan bathin.

Disaat dua insan manusia yang berlainan jenis disatukan oleh ketiga hukum tersebut diatas dalam suatu ruangan terpisah maka disaat itulah keduanya melewati “malam pertama yang kedua” Apapun yang mereka berdua rasakan pada saat itu kita tidak mengetahuinya secara pasti kecuali ada diantara keduanya yang menceriterakan pengalamannya selama melewati “malam pertama yang kedua”
Semua yang terjadi pada saat itu merupakan rahasia mereka berdua yang tentunya akan tersimpan rapi sampai akhir hayat; selama mereka berdua mampu mengemban amanah untuk menyimpan rahasia itu.
Apakah anda termasuk orang yang mampu menyimpan rahasia “malam pertama yang kedua” kirimkan kisahnya melalui email ke: imamnh57@gmail.com
